Kemahiran Berpantun Memerlukan Kecerdasan yang Tinggi

 

TANJUNGPINANG (KGK) – Pantun telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda atau WBTB yang di tetapkan UNESCO pada tanggal 17 Desember 2020. Pantun yang diusulkan untuk Indonesia berasal dari Kepulauan Riau dan Riau Daratan.

Hal itu terungkap dalam bedah buku ICMI berpantun dengan tema “Mulia Karena Karya. Kegiatan bedah buku yang disejalankan dengan peluncuran buku ICMI berpantun yang digelar di Aula SMA Negeri 4 Tanjungpinang itu, sebelumnya dihadiri langsung oleh Gubernur Kepri Ansar Ahmad secara daring.

Dimoderatori langsung oleh Sekretaris ICMI Orda Tanjungpinang, Ridarman Bay, SE, MM. dalam bedah buku yang turut dihadiri pemantun se Kota Tanjungpinang itu, Profesor, Dr Abdul Malik yang hadir sebagai penanggap dalam bedah buku, menjelaskan bahwa orang pertama yang menyusun buku pantun ternyata berasal dari Kepulauan Riau, yaitu Haji Raja Ibrahim pada tahun 1877 silam. Haji Raja Ibrahim merupakan teman dari Raja Ali Haji, namun beliau lebih mengkhususkan pada pantun.

Lebih lanjut, Budayawan periah jembia emas 2018 itu menambahkan, bahwa Pantun menggunakan bahasa melayu yang tinggi karena pantun dihargai sebagai karya yang bernilai tinggi. Oleh karena itu kemahiran berpantun ini memerlukan kecerdasan yang tinggi.

“Pantun merupakan jenis sastra yang memberi keindahan pelbagai rupa. Pantun merupakan jenis sastra melayu yang sangat disukai, dari dahulu hingga sekarang,” kata Abdul Malik. Mantan Dekan FKIP Umrah Tanjungpinang ini pun mengapresiasi, Buku ICMI berpantun karena merupakan kepedulian terhadap warisan budaya bangsa.

Buku ini merupakan sumbangan tulisan yang terdiri dari 29 penulis dengan profesi yang beragam. Buku ICMI Berpantunberkontribusi dalam bebebarapa hal, diantaranya Kepedulian terhadap pantun sebagai WBTB bangsa Indoensia, Pengekalan karya (tertulis) sehingga dapat dinikmati oleh kalangan luas.

Dalam beda buku bersempena hari sumpah pemuda 28 oktober itu juga terungkap, beragamnya Tema Pantun dalam buku dimana ada sebanyak 36 tema, mulai dari nasihat, kasih sayang, karakter, peduli lingkungan, pembangunan, kerja keras dan lain sebagainya. Usai penangggap menyampaikan materinya.

Bedah buku ICMI berpantun juga diisi sesi diskusi Tanya jawab, antara lain Afitri Susanti, S Psi, MM yang menyarankan agar gencarnya dilakukan sosialiasi terhadap penggunaan kosakata dalam bahasa Melayu.

“Tidak semua kosakata dalam Bahasa Melayu diakhiri dengan huruf “e”. Contohnya Lagu Segantang Lada selalu di sebutkan dengan “Seganteng Lade” seharusnya “Segantang Lada”. ungkap Fitri.

Sementara salah seorang peserta lainnya, dari kalangan akademisi Poltekes Tanjungpinang menyampaikan bahwa Buku Karya ICMI berpantun ini sangat menarik, mulai dari tampilannya serta penulis dan editornya tidak perlu diragukan lagi.

Namun terkait substansinya, dalam upaya ICMI melestarikan pantun yang benar, ia menyarankan pada revisi selanjutnya untuk dimasukkan latar belakang pantun dan tata cara membuat pantun yang baik. (Red)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.