Ditengah Pandemic Covid-19, Perusahaan Ini Tetap Bertahan

 

KEPRI (KGK) – Dampak pandemic Covid-19 tidak hanya sektor kesehatan yang menerima imbasnya. Sektor ekonomi, terutama perusahaan-perusahaan banyak yang tutup dan berdampak PHK massal. Hal ini terjadi hampir di seluruh dunia, tanpa terkecuali di Indonesia.

Di Provinsi Kepulauan Riau, dampak dari pandemic Covid-19 tersebut terhadap perekonomian dan dunia usaha sudah mulai terasa sejak virus tersebut menyebar di Indonesia pada bulan Maret 2020, terutama di Kabupaten Bintan.

Satu persatu beberapa perusahaan, terutama sektor pariwisata dan manufaktur kolaps dan tidak sanggup lagi mempertahankan usahanya. Hal itu disebabkan beberapa faktor. Khusus di sektor pariwisata yang mengandalkan wisatawan mancanegara sejak pademi Covid-19 terjadi tamu yang datang berkunjung menurun drastic.

Salah satunya Bintan Lagoon Resort yang berada di Kabupaten Bintan sudah menutup operasional awal Agustus 2020 lalu. Penutupan tersebut sudah disampaikan secara tertulis ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bintan per 31 Juli 2020.

Dampak dari penutupan perusahaan bidang pariwisata berskala internasional di Bintan ini, sebanyak 496 karyawan terpaksa dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tidak hanya BLR yang mengalami hal tersebut, terdapat 11 hotel dan 7 usaha lain yang bergerak di sektor pariwisata di Kawasan Wisata Lagoi, Bintan tutup untuk sementara waktu.

Walau banyak sektor yang terpukul akibat dampak pandemic Covid-19 ini, masih ada beberapa perusahaan yang tetap bertahan dan masih eksis beroperasi. Salah satunya PT Bintan Alumina Indonesia (PT BAI) yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang, Kabupaten Bintan. Perusahaan industri yang bergerak di bidang alumunium ini tetap bertahan ditengah mewabahnya Covid-19.

Setidaknya dengan keberadaan PT. BAI tersebut seperti oase ditengah padang pasir disaat pandemic Covid-19, dimana keberadaan perusahaan tersebut menyerap ribuan tenaga kerja, terutama warga lokal yang ada di Kabupaten Bintan khususnya dan Provinsi Kepri pada umumnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan saat meninjau PT BAI pada tanggal 2 Juli 2020 lalu.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan saat meninjau PT BAI pada tanggal 2 Juli 2020 lalu.

Saat ini jumlah tenaga kerja di perusahaan yang sedang membangun smelter bauksit tersebut kurang lebih sebanyak 3.000 pekerja. Bahkan untuk mendorong kegiatan produksi apabila Kawasan di PT BAI tersebut selesai dibangun dibutuhkan sebanyak 20 ribu tenaga kerja.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan yang pernah meninjau PT BAI pada tanggal 2 Juli 2020 berharap proyek PT BAI ini cepat beroperasi, agar nantinya bisa menyerap tenaga kerja lokal yang banyak.

“Ini proyek besar dan perlu tenaga kerja yang handal dan tidak sedikit. Makanya segera selesaikan, agar bisa beroperasi sehingga bias membuka lapangan pekerjaan yang banyak untuk masyarakat, terutama warga lokal,” ujar Luhut Binsar Panjaitan saat itu kepada sejumlah wartawan.

Selain itu, perusahaan yang tetap bertahan ditengah mewabahnya Covid-19 yaitu PT Mangrove Industry Park Indonesia (MIPI) yang berada di Sei Kolak Kijang, Kecamatan Bintan Timur. Perusahaan yang bergerak dibidang jasa logistik peti kemas untuk kebutuhan eksport dan import ini resmi beroperasi pada bulan September 2019 tahun lalu.

Perusahaan yang memproduksi kithen set perlengkapan ruangan dapur untuk ekspor ini mempekerjakan ratusan tenaga lokal, bahkan bila tidak terjadi pandemic Covid-19 perusahaan tersebut akan menyerap ribuan tenaga kerja.

Sejak berdiri, perusahaan tersebut sudah melakukan ekspor sebanyak 16 kali kithen set pada bulan Januari 2020. Hal tersebut dikatakan AKBP (Purn) Suhadi, Humas PT MIPI saat melakukan ekspor pada bulan Januari 2020 lalu kepada sejumlah wartawan.

Multiplayer efek dengan keberadaan PT MIPI dari sektor ekonomi di daerah sekitar sangat membantu warga yang membuka usaha, seperti warung makan dan usaha UKM lainnya. Beberapa warga membuka usaha kuliner yang melayani para karyawan perusahaan tersebut yang ingin makan.

Walau keberadaan perusahaan tersebut sering menjadi polemik oleh sebagian masyarakat terkait keberadaan TKA asing, tapi jumlahnya hanya beberapa persen dibandingkan warga lokal Bintan maupun Kepri sendiri.

Keberadaan perusahaan di Bintan tersebut yang tetap bertahan ditengah pandemic Covid-19 ini seharusnya mendapat dukungan dari semua pihak. Dimana keberadaan perusahaan tersebut dapat mengurangi pengangguran dimasa pandemic Covid-19 ini. (Red)

Comments

comments

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.